Ransomware Sebagai Ancaman Utama Keamanan Siber Indonesia - Dunia Tekno Hari Ini

Kepala BSSN: Ransomware Sebagai Ancaman Utama Dalam Keamanan Siber di Indonesia

Dunia Tekno Hari Ini – Pada acara Indo Security Forum yang diadakan di Jakarta, Letnan Jenderal (Purn) Hinsa Siburian, Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), mengungkapkan bahwa ransomware sebagai ancaman utama kini menjadi ancaman siber yang paling signifikan dihadapi oleh Indonesia. Sebelum kita bahas lebih lanjut mengenai topik ini, Mari kita ulas terlebih dahulu apa itu ransomware, dampak dari ransomware, serta kerugian yang timbul akibat kejahatan siber ini.

Apa itu Ransomware?

Ransomware adalah bentuk malware yang berbahaya, yang memiliki kemampuan untuk mengenkripsi data pengguna pada perangkat komputer atau jaringan. Pengguna yang terkena dampak ransomware diharuskan membayar tebusan untuk mendapatkan kembali akses ke data mereka.

Dampak Global dari Ransomware

Hinsa menjelaskan bahwa dampak global dari serangan ransomware pada tahun 2021 mencapai angka sekitar 20 miliar USD dan diperkirakan akan terus meningkat hingga lebih dari 13 kali lipat dari angka tersebut. Dia menegaskan bahwa jika ancaman ransomware tidak ditangani dengan serius, maka hal ini akan menjadi ancaman nyata bagi Indonesia.

Di dalam negeri, terdeteksi sekitar 270 juta anomali lalu lintas (traffic anomalies), di mana 75,49% di antaranya terkategori sebagai berbahaya. Hinsa mengungkapkan bahwa dari jumlah tersebut, sekitar 84.000 merupakan anomali yang terkait dengan ransomware.

Hinsa juga menyoroti pentingnya menjadikan keamanan siber sebagai fokus utama dalam strategi keamanan nasional Indonesia. Hal ini ditegaskan berdasarkan besarnya nilai transaksi digital di negara ini, yang diperkirakan akan mencapai Rp 2.100 Triliun pada tahun 2025, naik dari angka Rp 1.500 Triliun saat ini.

Kerugian Akibat Tantangan Keamanan Siber dan Upaya BSSN

Hinsa juga memaparkan bahwa kerugian yang disebabkan oleh masalah keamanan siber di Indonesia telah mencapai angka sekitar USD 5 Triliun. Dia menjelaskan bahwa selain aspek keamanan di darat, laut, dan udara, keamanan siber juga harus menjadi fokus penting.

Hinsa menekankan bahwa ruang siber memiliki potensi yang dapat memberikan manfaat serta menimbulkan risiko kejahatan. Oleh karena itu, peran BSSN adalah untuk secara proaktif mengantisipasi potensi ancaman dan menjaga keamanan ruang siber.

BSSN Bekerjasama Dengan Pemerintahan

Telah merumuskan strategi keamanan nasional dan siber yang melibatkan semua aspek sumber daya siber. Langkah ini tercermin dalam dikeluarkannya Peraturan Presiden No. 82 Tahun 2022.

Hinsa menggarisbawahi bahwa mengatasi tantangan keamanan siber akan memerlukan keterlibatan aktif dari pemerintah, akademisi, pelaku usaha, serta masyarakat. Dia menjelaskan bahwa keamanan siber, sebagaimana halnya dengan sistem pertahanan nasional Indonesia, merupakan upaya kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak.

Penutup

Dalam artikel Ransomware Sebagai Ancaman Utama Dalam Keamanan Siber di Indonesia yang diuraikan oleh pidato Letnan Jenderal (Purn) Hinsa Siburian, Kepala BSSN, yang menyoroti urgensi ancaman ransomware dalam konteks keamanan siber Indonesia. Pidato ini juga menggarisbawahi pentingnya keamanan siber dalam strategi keamanan nasional serta perlunya sinergi berbagai elemen untuk mengatasi tantangan ini.